Jeruk Nipis (Citrus × aurantiifolia)

Morfologi

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan tanaman berhabitus pohon kecil dengan cabang yang lebat tetapi tidak beraturan dan tinggi berkisar 1,5 sampai 5 meter. Jeruk nipis termasuk tumbuhan perdu yang memiliki dahan dan rantingnya berduri dan pendek, kaku, dan tajam (Rukmana, 2003).

Daun jeruk nipis, yang dapat dilihat memiliki susunan berselang-seling, berbentuk jorong sampai bundar, pangkalnya bulat, dan ujungnya tumpu. Daun jeruk nipis berukuran panjang 4-8 cm dan lebar 5 cm. Tepi daunnya bergerigi kecil dan tangkai daunnya bersayap sempit (Sarwono, 2001). Permukaannya daun bagian atas berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan bagian bawahnya berwarna hijau muda (Rukmana, 2003).

Buah jeruk nipis pada diameternya berukuran 1,5-2,5 cm, daun mahkotanya berwarna putih kuning. Mahkotanya berjumlah 4-5 bersatu atau lepas.. Benang sari 4-5 atau 8-10, kepala ruang sari benang 2. Tonjolan dasar bungan beringgit atau berlekuk. Bunga beraturan, berkelamin 2, bentuk tandan atau malai (Steenis et al, 2006)

Tanaman jeruk nipis pada umur 2,5 tahun sudah mulai berbuah. Buahnya terbentuk bulat sebesar bola pingpong dengan diameter 3,5-5 cm. Kulitnya berwarna hijau atau kekuningan-kuningan dengan tebal 0,2-0,5 cm. Daging buahnya berwarna kuning kehijauan (Steenis et al, 2006).

Manfaat Jeruk Nipis

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia s.) adalah salah satu tanaman toga yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bumbu masakan dan obat-obatan (Razak, Djamal, dan Revilla 2013). Dalam bidang medis, jeruk nipis dimanfaatkan sebagai penambah nafsu makan, diare, antipireutik, antiinflamasi, antibakteri dan diet (Prastiwi dan Ferdiansyah 2013). Selain itu secara empirik jeruk nipis juga dapat digunakan sebagai obat batuk, meluruhkan dahak, influenza, dan jerawat (Lauma, Pangemanan, dan Hutagalung 2015).

Jeruk nipis memiliki kandungan senyawa flavonoid dimana flavonoid merupakan golongan senyawa polifenol terbesar yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan antibakteri. Jeruk nipis memiliki aktivitas antifungal. Selain itu jeruk nipis juga memiliki aktivitas larvasida dan anthelmintik. Berbagai aktivitas yang dimiliki oleh tanaman jeruk nipis diduga berasal dari kandungan minyak atsiri. Minyak atsiri merupakan komponen terbanyak yang terdapat dalam tanaman jeruk nipis. Senyawa mayor yang terdapat dalam daun dan kulit buah jeruk nipis adalah limonen dan β-pinen. Jeruk nipis dapat digunakan sebagai antifungal alternatif untuk menggantikan fungisida kimia sehingga mengurangi efek berbahaya pada manusia dan lingkungan. Selain itu, jeruk nipis dapat digunakan sebagai larvasida alami yang memiliki beberapa keuntungan seperti degradasinya yang cepat serta toksisitas yang rendah. Jeruk nipis juga memiliki aktivitas anthelmintik karena adanya senyawa tanin yang serupa dengan fenol sintetik yang terbukti dapat menghambat pertumbuhan cacing (Chusniah dan Muhtadi 2017).